Siklus

Kita melahirkan tangis

Tangis melahirkan bumi

Bumi melahirkan waktu

Waktu melahirkan masa

Masa melahirkan aku

Dan aku

Adalah kita tanpa kamu

 

Kamu melahirkan kata

Kata melahirkan tapi

Tapi melahirkan juga

Juga menyatukan dua

Dua melahirkan Satu

Dan Satu

Adalah kamu tanpa aku

 

Aku melahirkan bisu

Bisu melahirkan puisi

Puisi melahirkan bunyi

Bunyi melahirkan tangis

Tangis menjadikan kita

Dan kita

Adalah tawa di balik tawa

 

(2013)

Penyair

Jika tak ada mesin ketik
Aku akan menulis dengan tangan
Jika tak ada tinta hitam
Aku akan menulis dengan arang
Jika tak ada kertas
Aku akan menulis pada dinding
Jika aku menulis dilarang
Aku akan menulis dengan
Tetes darah!

(Wiji Thukul, 19 januari 1988)

Negara

Berubahlah, negara

Berubahlah menjadi sesuatu yang asing

Yang tidak kami tahu

Yang rontek kretek dan sembur air diam

Gamang saja melihat hidungmu yang jorok

Bangir, penuh ingus dan upil sesak-menyesak

 

Di kediaman liangmu kami tiarap

Anak-anak dengan roda besi, atau

Kaki-kaki bugil yang saling menendang bola

 

Ini negara, bukan lagi

Kami bosan dengan takut kami sendiri

 

(2013)

The Dusk

Apa senja tidak datang kepadamu

Sebagai ketelanjangan yang jujur

Bayang-bayang bangunan mengerucut di kejauhan,

Dan kelelawar, hewan-hewan malam, juga,

Juga bapak dan anak penjual makanan yang

Pelan-pelan mendorong gerobak jualannya ke pinggir jalan

 

Tiba-tiba gelas kopimu minta diisi lagi

Dan senja bukan cuma milikmu sendiri

 

(2013)

Aku tak menulis puisi, seringkali aku hanya sedang terbaring di atas kertas.

Saya akan membuat rak buku saya sendiri seperti ini. Kelak.

(Source: nevver, via haije-justitia)

Perihal Hujan yang Jatuh Jauh di Belakang Hari Ini

oleleole:

Pada sebuah hujan yang jatuh jauh di belakang hari ini, kamu akhirnya memilih untuk tak lagi bertahan. Aku pun akhirnya memilih untuk tak lagi menahan. Berdua, kita sibuk melarikan perasaan pada hujan itu. Hujan yang jatuh jauh di belakang hari ini.

Kau lihat bocah-bocah itu? Mungkin cinta kita…

the-beauty-of-words-blog:

Maka bergerakkah kita? Karena masa lalu dan masa depan telah
dan akan menjadi hari ini. Lalu apa? Kita tak pernah kemana-mana?

Doa

Jadikan aku bulan

Cahaya remang di kisi-kisi jendela

Dengan bintang saling berciuman

Tanpa perlu takut terlambat pulang

Atau awan

Atau hujan

Semerbak dengan tanah dan air

dan angin dan kangen

yang meradang

 

(2013)

Tak Ada yang Benar-benar Diam di Dunia Ini

Hal tersebut pernah kuuji waktu aku kecil. Malam telah jauh menyempil jadi gaung-gaung samar yang sembunyi di balik bulan dan aku duduk di tepi pematang. Mendengar, menyimak, dan mengiyakan keluh kesah jangkrik dan kekunang di antara pohonan. Mereka tidak bisa diam. Disuruhnya aku berbaring di rumput sambil terus membaca kisah mereka sampai pagi menjelang.

Beberapa tahun kemudian aku masih ingin menguji teoriku. Kali ini pada tetanggaku yang baru saja meninggal. Aku penasaran apakah ia benar-benar diam atau tidak. Namun kata temanku orang mati tidak diam, energinya hanya berpindah. “Dia bergerak, sebenarnya, kau hanya tak bisa melihatnya.”

Dan tadi malam, waktu bulan telah hilang diganti titik-titik air yang mengembun di bibir jendelaku, aku penasaran, apakah fotomu di dompetku benar-benar diam atau tidak. Maka aku sodorkan korek yang menyala ke bawahnya. Mengejutkan, kau bangun dari kepalaku dan menggedor-gedor manja. “Aku tidak diam, sayang, aku Cuma tenggelam di matamu yang lelah memejam.”

(2013)

Nona

Oi, nona penumpang kereta kuda. Nona hendak ke mana. Gerimis mau tiba. Nona nanti jadi dingin. Pecah dinanti angin.

Mari saya bacakan nona sebuah cerita. Tentang seorang pemuda papa. Yang jatuh cinta kepada putri kaya raya. Saya jamin nona menyukainya.

Kemari, sandarkan bantal nona pada ranjang yang empuk. Berbaringlah. Dan biarkan semesta menceritakan kisahnya.

Saat saya selesai dan nona sudah tidur. Saya akan membetulkan selimut dan membubuh-kecupi kening nona. Selamat tidur, cinta.

(2013)

Pantai

                                                : Nat

Di pantai ini kita dilahirkan. Lewat beribu patuk camar dan kepak kupu-kupu yang memintas. Padang tanah dan debur pasir milik ibu.

Di sana kau bawa aku ke kantukmu yang tinggal setengah gelas. Lalu kau bagi dua sisa mimpimu. Ah, kau memang akan selalu jadi malam yang angkuh. Menggosok-gosok bahuku.

Sementara jangkau tanganku tak pernah lebih erat. Dari lingkar tubuhmu yang mengetat. Dan gerimis limbung di dingin doamu. “Semoga besok, air tak naik lagi”

Namun apa boleh buat. Kita ini cuma buih, Nat. Di laut yang ombaknya sedang kau cium itu.

(2013)