Hal tersebut pernah kuuji waktu aku kecil. Malam telah jauh menyempil jadi gaung-gaung samar yang sembunyi di balik bulan dan aku duduk di tepi pematang. Mendengar, menyimak, dan mengiyakan keluh kesah jangkrik dan kekunang di antara pohonan. Mereka tidak bisa diam. Disuruhnya aku berbaring di rumput sambil terus membaca kisah mereka sampai pagi menjelang.
Beberapa tahun kemudian aku masih ingin menguji teoriku. Kali ini pada tetanggaku yang baru saja meninggal. Aku penasaran apakah ia benar-benar diam atau tidak. Namun kata temanku orang mati tidak diam, energinya hanya berpindah. “Dia bergerak, sebenarnya, kau hanya tak bisa melihatnya.”
Dan tadi malam, waktu bulan telah hilang diganti titik-titik air yang mengembun di bibir jendelaku, aku penasaran, apakah fotomu di dompetku benar-benar diam atau tidak. Maka aku sodorkan korek yang menyala ke bawahnya. Mengejutkan, kau bangun dari kepalaku dan menggedor-gedor manja. “Aku tidak diam, sayang, aku Cuma tenggelam di matamu yang lelah memejam.”
(2013)